Dialog Dengan Pemikiran Khowarij

Fenomena bom bunuh diri di negara kita dan luar negeri yang tidak berhenti semenjak kasus bom Bali begitu mengganggu ketentraman dan keamanan masyarakat. Betapa tidak, negara yang aman dan damai diricuhkan dengan pengeboman-pengeboman, meskipun secara umum korbannya hanya sedikit. Namun fenomena itu mengindikasikan munculnya neo khowarij di masyarakat.

Sejatinya pengeboman ini adalah akibat frustasi dan balasdendam kelompok tertentu dengan penguasa yang ada. Kita sangat prihatin dengan keadaan ini, karena kesalahan mereka dalam memahami Islam yang rahmatan lil’alamin justru menjadi ancaman bagi manusia. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

“Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda beliau namun lemah pemahaman. Mereka berbicara dengan ucapan manusia terbaik (mengambilnya dari Al Qur’an) namun mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari target buruan yang sudah dikenainya. Iman mereka tidak sampai ke tenggorokan mereka. Maka dimana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka karena pembunuhan atas mereka adalah pahala di hari qiyamat bagi siapa yang membunuhnya”. Muttafaq ‘Alaihi

🌸 Kilas Balik Khawarij

Benih-benih khawarij telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di dalam sebuah hadits muttafaq ‘alaihi dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyalahu ‘anhu:

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagi ghanimah datang Abdullah Dzul Khuwaishirah Al-Tamimi dan berkata: i’dil ya Rasulallah ( berbuat adillah wahai Rasulullah!), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wailaka wa man ya’dil idza lam a’dil? Siapa yang bisa berbuat adil jika aku tidak bisa adil sungguh kamu rugi jika aku tidak adil? Umar bin Al-Khatthab berkata: Ya Rasulullah izinkan aku utk membunuhnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; biarkan dia karena dia memiliki pengikut yang salah seorang di antara kalian meresa remeh sholatnya dibandingkan sholat mereka, puasanya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari target buruan yang sudah dikenainya.

Setelah berlalu bertahun-tahun maka pemikiran khowarij ini mulai tampak tatkala terjadi peperangan antara kubu  khalifah Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu dengan kubu Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pada perang Siffin, tatkala kubu Muawiyyah mengangkat mushab meminta Al-Tahkim yaitu setiap kubu mengutus satu orang untuk berunding , Sahabat Abu Musa Al-‘Asy’ari dari kubu khalifah Ali dan Amru bin Al-‘Ash dari kubu Mu’awiyah. Setelah kejadian Al-Tahkim itu Khawarij tidak terima, mereka berdalil: Wa man lam yahkum bima anzalallah fa ulaika humul kafirun, inil hukmu illa lillah, kemudian mereka kemudian bergerombol dan berkumpul di suatu tempat yang bernama Harura’. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengutus Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk berdialoq dengan mereka dan mengajak rujuk, yang akhirnya rujuklah sebagian besar dari khawarij kepada sahabat. Mereka semakin ekstreme dengan mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka. Tatkala sahabat Abdullah bin Khabbab bin Al-Arat bersama istrinya melewati kaum khawarij, mereka membunuhnya dan membunuh istrinya, bukan hanya itu mereka membelah perut dan membunuh janinnya, tatkala pembunuhan itu sampai kepada khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menyiapkan pasukan untuk memberantas mereka, sehingga mereka dapat dikalahkan dan hanya tersisa sedikit dari mereka.

🌸 Apakah Khawarij Masih Ada Jaman Sekarang?

Syeikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah Ta’ala ketika ditanya: Apakah di jaman ini masih ditemukan adanya pemikiran Khawarij?
beliau menjawab: Subhanallah, apakah yang ada saat ini tidak dianggap sebagai khowarij?
Mengkafirkan muslimin ini merupakan madzhab khowarij. Lebih ekstrim dari itu membunuh kaum muslimin dan memeranginya.

Madzhab khawarij ini adalah keluar memberontak kepada penguasa.
Tiga di antara sifat mereka:
Mengkafirkan muslimin, ini merupakan madzhab khawarij.
Keluar dari ketaatan kepada penguasa. ini merupakan madzhab khawarij.
Menghalalkan darah kaum muslimin. Ini merupakan madzhab khawarij. Meskipun dia hanya meyakininya di dalam hati dan tidak pernah melafazhkannya, tidak pula melakukannya.

🌸 Syubhat Khawarij

Jadi salah satu madzhab pokok khowarij adalah mengkafirkan pemerintah muslim dan memberontak. Di antara shubhat mereka adalah mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ  المائدة: 44
Artinya: Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah Turunkan, maka mereka adalah orang-orang kafir.

Syubhat mereka adalah:
1⃣Allah Ta’ala mensifati kufur bagi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah semata-mata tanpa melihat keyakinan dia.
2⃣Hukum asal sesuatu yang disifati Allah Ta’ala kafir adalah kufur akbar, karena lafazh itu jika dimutlakkan syara’ maka memberi arti sempurna (kufur akbar) kecuali ada dalil yang memalingkannya.
3⃣Syeikhul Islam menetapkan bahwa lafazh kafir di dalam syariat itu maksudnya adalah kufur akbar bukan kufur asghar.

🔹Jawaban dari shubhat mereka:
1⃣Benar bahwa Allah Ta’ala mensifati kufur atas hakim dengan semata-mata dia berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala, akan tetapi kufur di sini maksudnya adalah kufur asghar dengan dalil:
👉�Secara ijma’ bahwa kafir di dalam ayat ini tidak secara muthlak, artinya tidak mutlak orang yang berhukum dengan selain hukum Allah langsung dihukumi kafir, karena yang kafir jika dia menentang hukum Allah atau menghalalkan selain hukum Allah atau menganggap selain hukum Allah lebih baik.
👉�Adanya tafsir Abdullah bin Abbas dan sahabat-sahabat beliau bahwa maksud ayat ini adalah kufur asghar. Ada beberapa lafazh tafsir beliau:
“كفرٌ لا ينقل عن الملة””كفرٌ دون كفر””هي به كفرٌ وليس كفراً بالله وملائكته وكتبه ورسله
2⃣Jawaban dari syubhat ke dua sudah jelas bahwa lafazh kufur di ayat di atas tidak muthlak, karena maksudnya adalah kufur asghar.
3⃣Benar bahwa Syeikhul Islam menetapkan bahwa lafazh kafir di dalam syariat itu maksudnya adalah kufur akbar, akan tetapi beliau menetapkan jika kata kufur bentuknya mashdar, sedangkan di dalam ayat bentuknya fa’il (kafir), beda antara mashdar dengan fa’il, kalau mashdar itu menunjukkan atas perbuatan saja sedangkan isim fa’il menunjukkan atas perbuatan dan pelakunya. Oleh karena itu di dalam fatawanya beliau mengatakan:
“وإذا كان من قول السلف: (إن الإنسان يكون فيه إيمان ونفاق)، فكذلك في قولهم: (إنه يكون فيه إيمان وكفر) ليس هو الكفر الذي ينقل عن الملّة، كما قال ابن عباس وأصحابه …
Apabila dari perkataan salaf: Sesungguhnya manusia itu bisa memiliki iman dan nifaq, demikian pula di dalam perkataan mereka: sesungguhnya manusia (juga) ada yang memiliki iman dan kufur, akan tetapi bukanlah kufur yang mengeluarkan dari agama Islam sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan sahabat-sahabatnya ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:
ومن لم يحكم بما أنزل الله فألئك هم الكافرون
“Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir”. Al-Maidah: 44
Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita dan seluruh umat Islam hidayah jalan yang benar… aammiin
🖊 Ust. Agus Santoso, M.P.I حفظه الله

Leave a Comment