Jangan Berkasihsayang Dengan Orang Kafir

Bismillahirrahmanirrahim

Allah Ta’ala berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung
(Surat Al-Mujadilah : 22)

💐 Sababun Nuzul

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil perkataan Sa’id bin Abdul Aziz dan selainnya mengatakan: Ayat ini (dari awal) sampai terakhir diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu ‘ubaidah ‘Amir ibnu ‘Abdillah ibnu Al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu yang membunuh bapaknya pada waktu perang Badar, oleh karena itu Khalifah Umar Ibnu Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika mengangkat ahlu syura’ setelahnya yang terdiri dari enam sahabat, beliau berkata: Kalau seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup, maka pasti aku akan mengangkatnya menjadi khalifah setelahku. Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hlm. 284.

💐 Makna Global

Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bahwa mereka tidak akan loyalitas dan berkasih sayang kepada orang-orang yang memusuhi Allah Ta’ala dan RasulNya. Itulah iman yang sebenar-benarnya, yang dengan sebab itu Allah Ta’ala akan menolong mereka dan akan memasukkan mereka ke dalam syurgaNya yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.
Syeikh Al-Sa’di berkata,” Yaitu tidak akan berkumpul ini (mukmin) dan itu (kafir), maka tidak akan ada seorang hamba yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir secara hakiki melainkan akan mengamalkan konsekwensi dari iman dan kelazimannya, yaitu mencintai orang yang beriman dan loyalitas kepadanya, serta benci terhadap orang yang tidak beriman dan memusuhinya meskipun dia adalah orang yang paling dekat dengannya… Adapun orang yang menyangka beriman kepada Allah Ta’ala san hari akhir, namun bersamaan dengan itu dia masih berkasih sayang kepada musuh-musuh Allah, mencintai orang yang meninggalkan iman di belakang punggungnya, maka sesungguhnya ini adalah iman prasangka yang tidak ada hakikatnya, karena segala sesuatu itu haruslah dengan bukti yang akan membenarkannya, maka hanya sekedar klaim (bahwa dia beriman. Pent) tidak akan berfaidah sedikitpun dan tidak akan menjadikan benar orang yang mengklaimnya. (Tafsir Al-Sa’di hlm. 848).
Oleh karena itu, orang yang beriman hendaknya berkasih sayang san loyalitas kepada orang yang beriman, tolong menolong, bersaudara, saling berempati, dll. Dan tidak boleh orang yang beriman berkasihsayang dan mencintai orang kafir. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh merayakan perayaan atau syiar agama selain Islam, membantu perayaan mereka dan mengucapkan selamat atas perayaan mereka, karena itu dikawatirkan itu adalah wujud rasa ridha terhadap agama mereka. Bukan berarti orang mukmin harus berlepas diri dengan non muslim secara total, tapi Islam adalah agama damai, selama mereka tidak memusuhi dan mengganggu kaum muslimin maka dalam urusan dunia, tidak mengapa kaum muslimin berinteraksi dengan mereka secara ma’ruf (baik-baik), berakhlak kepada mereka dengan akhlak yang baik, selama tidak melanggar larangan agama.

💐 Faedah-faedah

1. Seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir dengan sebenarnya iman tidak akan berkasihsayang dan loyalitas kepada orang yang tidak beriman.
2. Konsekwensi tidak berkasihsayang kepada orang yang tidak beriman adalah tidak membantu perayaan hari raya mereka, mengikuti perayaan mereka dan mengucapkan selamat atas perayaan mereka.
3. Islam adalah agama yang cinta damai, selama mereka tidak memerangi dan mengganggu umat Islam, maka kita diperintahkan untuk berinteraksi dan menjaga hubungan baik dengan mereka, kerjasama dalam urusan dunia bukan urusan agama. Barangkali dengan kita berakhlak baik kepada mereka, akan menyebabkan mereka menerima agama Islam.
4. Para sahabat adalah contoh kongkrit implementasi keimanan yang kokoh di dalam kehidupan sehari-hari, karena iman itu bukan hanya klaim saja, namun butuh dibuktikan di dalam kehidupan sehari-hari.
5. Orang yang beriman kepada Allah Ta’ala secara hakikatnya dan menjalankan konsekwensinya, akan dibalas Allah Ta’ala dengan pahala yang besar dan kenikmatan tiada tara, yaitu masuk syurga, kekal selamanya. Wallahu a’lam

Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I

Leave a Comment