Keutamaan Ilmu Dan Ulama’

Dalam risalah  singkat ini kami akan menuliskan secara global tentang keutamaan menuntut ilmu, kedudukan ulama, dan keagungan mereka di sisi Allah ta’ala, serta ayat- ayat Al Qur’an, Hadits- hadits Nabi, perkataan para sahabat dan salafush shaleh yang menyebutkan masalah tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwa kesadaran para penuntut ilmu perihal kemuliaan dan kedudukan tinggi yang didapatkan melalui belajar dan mengajar [setelah mendapatkan ilmu ] akan menjadikan mereka antusias untuk menempuh jalan ilmu, belajar dan beretika dengan etika- etika syar’i yang akan meningkatkan kedudukan dan keutamaan mereka di sisi Allah ta’ala.

Berikut ini kami paparkan secara ringkas nash- nash yang menyebutkan tentang anjuran menuntut ilmu, kedudukan ulama,pahala dan keutamaannya:

AYAT – AYAT AL – QURAN TENTANG KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DAN KEDUDUKAN ULAMA

Allah ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan ulama dan kedudukan mereka yang tinggi :

Az-Zumar : 9

.  هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Artinya : ….katakanlah, adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidak mengetahui? sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”   ( Az Zumar ayat 9 )

Allah ta’ala juga berfirman :

Al-Mujaadilah : 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya :….Allah akan meninggikan orang- orang yang beriman diantaramu dan orang- orang yang berilmu beberapa derajat….( Al Mujadilah ayat 11)

Peninggian derajat menunjukkan kepada keutamaan yang agung berupa ketinggian secara maknawi di dunia dan secara hissi di akherat.Di dunia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan reputasi yang baik. Sedangkan secara hissi di akhirat akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di surga.

HADITS- HADITS NABI TENTANG KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DAN KEDUDUKANNYA

Kitab- kitab petunjuk Nabawi berisi ratusan hadits yang memuat anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk menuntut ilmu dan mendapatkannya, kedudukan ulama dan kemuliaan mereka serta hal- hal yang dapat mendorong mereka untuk berhias diri dengannya  dan berantusias untuk meraihnya.

Misalnya dalam kitab shahih Bukhari, di dalamnya terdapat lebih dari seratus hadits yang membicarakan tentang ilmu, menuntut ilmu, dan anjuran untuk mendapatkannya. Imam Al Bukhari dalam Kitab shahihnya mengkhususkan pembahasan ilmu dalam bab khusus dan meletakkannya setelah bab iman dengan memberinya judul “ Kitabul Ilmi”. Beliau membaginya dalam beberapa bab yang mencakup keutamaan ilmu, safar untuk menuntut ilmu dan menulisnya, menghafalnya, memahaminya, menghormati ulama, sifat malu dalam menuntut ilmu dan lain sebagainya.

Dalam kitab- kitab sunnah yang lain terdapat sejumlah hadis marfu’ dan atsar yang mauquf dari para sahabat dan tabi’in yang menunjukkan kepada kedudukan para ulama dan kedudukan tinggi yang Allah persiapkan bagi penuntut ilmu.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah :

Dari Mu’awiyah beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan memahamkannya terhadap agama”. [ H.R.  Bukhari:1/25 dan Muslim:1037]

Dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata:  Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “ Semoga Allah akan membuat berseri- seri wajah orang yang mendengarkan sesuatu dari kami lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Berapa banyak orang yang menerima seruan itu bisa lebih paham dari pada yang mendengar secara langsung”. [H.R. At – Tirmidzi:2569]

Dari Abu Hurairah berkata,  dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda  : “Apabila anak keturunan Adam meninggal dunia  maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan orang tuanya”. [H.R. Muslim:1631]

PERKATAAN PARA SAHABAT DAN SALAFUSH SHALEH TENTANG KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Dari Ali bin Abi Thalib beliau berkata : “ Ilmu lebih baik dari harta karena  ilmu akan menjagamu sedangkan kamu yang akan menjaga harta.Ilmu sebagai hakim ( pemutus perkara ) sedangkan harta adalah yang di putuskan perkaranya ( maksudnya yang dikelola ).Para penjaga harta akan meninggal dunia sedangkan para penjaga ilmu tetap hidup.Jasad mereka memang akan  meninggal dunia sebagaimana yang lainnya, namun kepribadian mereka akan tetap ada dalam hati”. [ Lihat Adabud dunya wad ad din:48, karya Hasan al Mawardi]

Abu Darda’ berkata : “Aku belajar satu masalah saja, lebih aku sukai dari pada shalat sunnah semalam suntuk [ Lihat Miftaahudar as sa’adah:1/122,  karya Ibnul Qoyyim )

Dari imam Asy Syafi’i beliau berkata : “ Tidak ada sesuatu yang lebih utama setelah yang fardhu [wajib] melebihi menuntut ilmu”. [ Lihat Al Majmu’ Syarah Muhadzab:1/21, karya imam An Nawawi ]

Disadur dari kitab:  Aadabu Thalibil Ilmi, karya Syaikh Doktor Anis bin Ahmad Kurzun,Cet: Dar An Nur al Maktabaat

Oleh: Santri kelas 3 I’dad Du’at Jamilurrahman

 

 

Leave a Comment