Hukum Berwudhu Dengan Air Laut

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( فِي اَلْبَحْرِ: { هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ }

أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ  .

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda tentang  lautan:

“ Airnya suci dan menyucikan, bangkainya halal”.

Dikeluarkan oleh imam empat dan  Ibnu Abi Syaibah sedangkan lafadz ini adalah milik beliau.

Telah menshahihkannya Ibnu Khuzaimah dan at Tirmidziy.


 

1.Takhrij Hadits:

Telah meriwayatkannya imam Malik dalam al Muwatha’ [1/22],Abu Dawud [83],an Nasa’iy [1/50,176],at Tirmidziy [69],Ibnu Majah [386],Ahmad [2/361],Ibnu Hibban [4/49],Ibnu Abi Syaibah [1/252],Ibnu Khuzaimah[1/59]

Berkata Ibnu Abdil Hadiy dalam al Muharar: “Telah menshahihkannya imam Bukhari,at Tirmidziy,Ibnu Khuzaimah,Ibnu Hibban dan Ibnu Abdil Barr dan selain mereka.Imam al Hakim mengatakan: Ini adalah dalil yang Imam Malik memulai kitabnya al Muwatha’ dan para ahli fikih islam menerimanya dari semenjak waktu beliau hingga sekarang ini “[al Muharar;7]

Telah menshahihkan hadits ini Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid [16/218-219]

Dan telah menshahihkannya an Nawawiy dalam Majmu’ Syarh Muhadzab [1/82],

dan juga syaikh al alBaniy dalam Irwaul Ghalil [1/42] , ash Shahihah [480] dan Shahih Jami’ [7048]

[[Lihat lebih lanjut  Khulashatul Kalam dan ad Durar karya syaikh Khalid Dhaifullah,Tuhfatul Kiram karya syaikh Doktor Muhammad Luqman,Tahqiq  dan Takhrij Bulughul Maram karya syaikh Samir  az Zuhairiy/dicetak bersama Bulughul Maram, Tahqiq  dan Takhrij Subulus Salam karya syaikh Muhammad Shubhiy Hasan Hallaq/dicetak bersama Subulus Salam]]

2.Makna lafadz-lafadz musykil:

1.[في البحر]: Tentang lautan.

Maksudnya tentang hukum yang berkaitan dengannya.Adapun lautan maksudnya adalah air yang banyak atau air yang rasanya asin saja.

2.[الطهور]:ٍٍٍٍٍٍSuci dan menyucikan

  1. 3. [الحل]:Halal.Yakni lawan dari haram.

Di dalam riwayat ad Daruquthniy diriwayatkan dengan lafadz : الحلال [halal].

4.[ميتته]: Bangkainya.

Maksudnya adalah bangkai dari binatang  yang hidup di laut bukan bangkai binatang yang jatuh ke  laut.Dan antara keduanya terdapat perbedaan yang tajam lagi jelas.

 

3.Faedah  dan Kandungan Hukum:

A.Air laut adalah suci secara dzatnya dan dapat menyucikan yang selainnya.

Dan ini adalah merupakan hal yang telah disepakati para ulama’.

Berkata Ibnu Abdil Barr:

وَقَدْ جَاءَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ كَرَاهِيَةُ الْوُضُوءِ بِمَاءِ الْبَحْرِ

وَلَيْسَ فِي أَحَدٍ حُجَّةٌ مَعَ خِلَافِ السُّنَّةِ

وَقَدْ رَوَى قَتَادَةُ عَنْ مُوسَى بْنِ سلمة الهذلي قال سألت بن عَبَّاسٍ عَنِ الْوُضُوءِ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ هُمَا الْبَحْرَانِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى (هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ) الْفُرْقَانِ 53 لَا تُبَالِ بِأَيِّهِمَا تَوَضَّأْتَ

وَهَذَا إِجْمَاعٌ مِنْ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ الَّذِينَ تَدُورُ عَلَيْهِمْ وَعَلَى أَتْبَاعِهِمُ الْفَتْوَى

“ Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Amr bin al ‘Ash dibencinya wudhu dengan menggunakan air  laut, namun tidaklah ucapan seseorang dapat dianggap ketika berlawanan dengan sunnah.

Dan  Qatadah telah meriwayatkan dari  Musa bin Salamah ia berkata, aku telah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang berwudhu menggunakan air laut maka Beliau menjawab:”  Keduanya adalah lautan.Beliau menghendaki firman Allah ta’ala:

هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاج

“ Ini adalah air tawar dan ini air asin”.Q.S.al Furqan:53

Janganlah engkau peduli dengan manapun dari keduanya engkau berwudhu”.

Dan ini merupakan kesepakatan dari ulama’ dunia, yang fatwa berputar di atas

mereka dan pengikut-pengikut mereka”.[Al Istidkar:1/159]

B.Disunnahkan menambahkan jawaban yang bermanfaat  dari  suatu jawaban pertanyaan jika dibutuhkan.

Berkata al Khathabiy:

وفيه أن العالم والمفتي إذا سئل عن شيء وهو يعلم أن بالسائل حاجة إلى معرفة ما وراءه من الأمور التي يتضمنها مسألته أو تتصل بمسألته كان مستحبا له تعليمه إياه والزيادة في الجواب عن مسألته ولم يكن ذلك عدوانا في القول ولا تكلفا لما لا، يَعني من الكلام

“ Di dalamnya terdapat faedah bahwasanya seorang alim dan mufti apabila ditanya tentang sesuatu sedangkan ia mengetahui bahwasanya penanya berhajat untuk mengetahui hal-hal lain yang berkaitan dengannya, disunnahkan untuk mengajarkan kepadanya atau menambahkannya dalam jawaban pertanyaannya.Hal ini bukanlah dihitung sebagai sesuatu yang melampaui batas dalam ucapan dan bukan pula membebani diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat”.[Ma’alim Sunan:1/43]

C.Hadits ini sebagai dalil atas halalnya semua binatang laut walaupun mati di daratan.

D.Bangkai binatang laut apabila bercampur dengan air maka tidaklah membuat najisnya air tersebut karena ia halal dan suci .

Berkata al Khathabiy:

وفيه وجه آخر وهوأنه لما أعلمهم بطهارة ماء البحر وقد علم أن في البحر حيوانا قد يموت فيه والميتة نجس احتاج إلى أن يعلمهم أن حكم هذا النوع من الميتة حلال بخلاف سائر الميتات لئلا يتوهموا أن ماءه ينجس بحلولها إياه

“ Di dalamnya ada sisi yang lain yakni tatkala Nabi menjelaskan sucinya air laut maka telah dimaklumi bahwasanya di dalam lautan terdapat binatang yang kadang mati di dalamnya [-sedangkan bangkai adalah najis- ]maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam perlu menjelaskan  bahwasanya hukum bangkai jenis ini adalah halal berbeda dengan bangkai yang lain, agar  tidak menimbulkan keraguan bahwa airnya menjadi najis  karena bercampurnya dengannya” [Ma’alim Sunan:1/43]

E.Air apabila berada dalam asal penciptaannya walaupun rasanya sangat asin atau yang lainnya, maka tetap dihukum suci dan menyucikan.

F.Hadits ini memberikan isyarat yang jelas bahwasanya tidaklah diperbolehkan untuk berwudhu kecuali  dengan menggunakan air yang suci dan menyucikan.

Wallahu a’lam bi ash shawab

Diselesaikan tulisan singkat  ini oleh hamba Allah

Abu Qushaiy al Anwar

Di  Ma’had Jamillurrahman

Bantul – Yogyakarta

 

Leave a Comment