Kenapa Mesti Malu Mengucapkan Salam?

 

Dewasa ini banyak umat islam yang karena sudah terpengaruh dengan budaya barat dan karena kebodohan banyak melanda mereka  sehingga mereka  banyak meninggalkan syi’ar-syi’ar islam yang agung dan mulia, baik dalam  perilaku mereka, gaya hidup, pergaulan, ibadah dan lain sebagainya dan di gantikan dengan syiar-syiarnya orang  barat, merasa malu untuk menampakkan syiar-syiar islam, merasa tidak  percaya diri, merasa tidak keren, merasa rendahan, jumud  dan seterusnya

.

Bagi seorang muslim yang memiliki iman melihat fenomena ini tentunya akan merasa sangat sedih dan prihatin, kemudian tergerak hati untuk mengingatkan saudara-saudaranya seagama agar mau kembali kepada ajaran agama mereka, menyadarkan ingatan mereka akan indah dan agungnya ajaran islam, dan akan menjadi mulia orang-orang yang mau mengamalkannya.

 

Dan salah  satu di antara  syiar islam yang indah dan mulia yang telah mereka tinggalkan adalah menebarkan salam kapada sesama  kaum muslimin, di g anti dengan ucapan selamat pagi, selamat sore ,da-da, selamat tinggal, sampai jumpa, bay-bay dan lain-lain  padahal kalau seandainya mereka mengetahui  makna yang terkandung dalam salam yang begitu indah dan mulia, dan jauh lebih baik dari sekedar ucapan-ucapan yang mereka warisi dari orang barat, maka tentu mereka akan senang untuk menebarkan di kalangan kaum muslimin, bahkan mungkin orang baratpun juga ingin untuk menebarkan di kalangan mereka jika mereka mengetahuinya.

 

Berikut ini –dengan memohon pertolongan kepada  Allah عز وجل-kami akan  mencoba menyuguhkan kepada para pembaca pembahasan tentang makna salam , keutamaannya, kedudukannya dalam islam serta dalil-dalil yang berkaitan dengannya, semoga bermanfaat bagi kita semuanya  Amiin.

 

          Makna salam:

 

Makna  salam  yang dalam bahasa arab tertulis (ألسّلام)   adalah: Doa keselamatan dari semua musibah dan kejelekan, sehingga apabila kita mengucapkan (ألسّلام عليك)    kepada seseorang maka berarti kita mendoakan dia semoga Allah menyelamatkannya dari semua musibah dan kejelekan : menyelamatkannya dari semua penyakit ,dari kejelekan manusia ,kejelekan syaithon, kejelekan binatang,menyelamatkannya dari segala maksiat,dari penyakit hati, dari siksa kubur,siksa neraka, dll, jadi salam itu adalah kalimat yang umum yang maknanya adalah doa untuk orang lain agar Allah menyelamatkannya  dari segala musibah dan kejelekan.(syarah riyadhus sholihin syaikh Utsaimin  3/3 )

Ini menunjukkan bahwa salam itu memiliki makna yang sangat indah dan sangat mulia dan agung, sehingga sudah semestinya umat islam senang untuk memasyarakatkan di tengah-tengah mereka sekaligus merupakan salah satu wujud bukti rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.

 

Dahulu para sahabat nabi saking cintanya mereka kepada Allah ta’ala, mereka membaca salam dalam sholat dengan bacaالسلام على الله   (semoga keselamatan atas Allah)

Maka nabi saw pun melarang mereka dari salam kepada Allah dan bersabda : sesungguhnya Allah adalah pemberi selamat,  tetapi ucapkan :

السّلام علينا وعلى عبادالله الصالحين” ”   (semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang sholih)

 

Rosulullah saw melarang para sahabat membaca  salam  untuk  Allah, karena Allah adalah zdat yang selamat dan  sang pemberi selamat yang tidak membutuhkan doa selamat , bahkan hanya Dialah yang berhag untuk di mintai selamat dan hanya Dia yang mampu memberikan keselamatan . dan orang yang membaca  salam untuk Allah itu  seakan-akan beranggapan bahwa Allah itu belum selamat yang berarti lemah seperti makhluk-mahasuci Allah dari itu semua- maka itu tidak mungkin ,sehingga larangan di atas itu jelas menunjukkan harom sehingga jangan sekali-kali kita membaca salam untuk Allah عز وجل.

 

Hukum menebar salam dalam islam

 

Menebar salam di kalangan sesama kaum muslimin adalah di syareatkan  karena, banyaknya dalil yang memerintahkan, di antaranya:

 

1 .  Dari Ubadah AlBarra’ bin ‘Azib ra  ia  berkata:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بسبع : بعياده المريض، واتباع الجنائز، وتشميت العاطش، ونصرالضعيف، وعون المظلوم ، وإفشاء السلام، وإبرار المقسم.  رواه البخارى ومسلم.                                                       

 

Artinya :  Rasulullah telah memerintahkan kepada kami tuju perkara  yaitu: menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menebarkan salam, dan berbuat baik kepada orang yang bersumpah. (HR: Bukhori Muslim).

 

Menebarkan  salam termasuk salah satu dari tujuh hal yang nabi perintahkan dalam hadist di atas, ini menunjukkan bahwa menebarkan salam adalah di syareatkan dalam islam, dan merupakan amalan ibadah yang di cintai oleh Allah dan rasulNya.

 

  1. 2. Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw:

 

 

أيّ الاسلام خير؟ قال: تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف. رواه البخارى ومسلم.

 

Artinya: Bagaimanakah islam yang baik itu? Beliau manjawab: “Yaitu kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang(islam) yang kamu kenal dan kepada orang(islam) yang tidak kamu kenal.” (HR:Bukhori Muslim).

 

Dalam hadist di atas  Rosulullah صلى الله عليه وسلم di Tanya tentang tanda islam yang baik ,maka beliau menyebutkan dua di antara tanda islam yang baik, dan mengucapkan salam kepada sesama muslim adalah termasuk di dalamnya, sehingga semakin jelas menunjukkan bahwa salam adalah merupakan satu sunnah yang di syareatkan dalam islam .

 

Dan dalam hadist di atas terdapat penjelasan bahwa salam itu hendaknya di tujukan kepada semua orang islam baik yang kita kenal ataupun tidak kita kenal, kecuali orang islam yang jelas-jelas fasik dan berani menampakkan kefasikannya, maka  boleh kita memboikot dia dengan cara tidak salam kepadanya  bahkan boleh tidak menjawab salamnya jika dia salam pada kita, apa bila itu bisa bermanfaat bagi dia, menjadikan dia berhenti dan taubat dari kefasikannya, akan tetapi kalau justru membuat dia akan memusuhi kita dan semakin nekat dalam kefasikannya  maka hendaknya kita tetap salam kepadanya dan menjawab salamnya bila dia salam, karena ada satu kaidah  “Tidak boleh mengingkari suatu kemungkaran dengan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar”.

 

Adapun memberi salam pada orang kafir maka hukumnya harom karena Rasulullah saw melarang hal itu, seperti dalam sebuah riwayat dari Abu Huroiroh  Rasulullah bersabda :

                                          لاتبدأوا اليهود والنصارى بالسلام.  رواه مسلم

Artinya: “janganlah kalian memulai salam pada orang yahudi dan nasrani”

                (HR: Muslim)  

 

Dalam hadist ini Raulullah melarang memulai salam kepada orang yahudi dan nasrani, akan tetapi termasuk juga orang-orang kafir lainnya, karena orang kafir yang selain dari ahli kitab kekafirannya lebih parah dari ahli kitab( As-syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin dalam syarah riyadhus sholihin :3/7).

 

                                              

  1. 3. Dan masih banyak hadist-hadist lain yang semakna dengan dua hadist di atas, sehingga kita sebagai orang yang telah mengaku muslim sudah semestinya  bersemangat untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud  ketaatan kita kepada petunjuk yang rosulullah saw  bawa dan merupakan bentuk perjuangan dalam menebarkan syiar-syiar islam  yang tentunya akan mendapatkan ganjaran yang besar dari Allah عز وجل.

 

 

Keutamaan menebarkan salam

 

Keutamaan menebarkan salam sangatlah banyak, berikut ini kami sebutkan sebagian di antaranya:

 

Pertama:  Menebar salam adalah merupakan satu bentuk ibadah lisan, karena telah di                  perintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan setiap yang di perintahkan pasti Allah cintai, dan setiap perkataan dan perbuatan yang Allah cintai itu adalah ibadah. Karena definisi ibadah adalah:

     إسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة

Nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridloi berupa perkaktaan dan perbuatan yang lahir dan yang batin”.(definisi ibadah menurut Ibnu Taimiyah)

 

Kedua:  Menebarkan salam menjadi sebab munculnya rasa saling mencintai  sesama kaum muslimin, karena salam adalah doa keselamatan, sehingga orang yang di beri salam dia merasa sangat di perhatikan oleh saudaranya yang memberi salam sampai-sampai mau mendoakan selamat, demikian sebaliknya si pemberi salam jika salamnya di jawab maka dia akan merasakan perasaan yang serupa, sehingga tumbuhlah rasa saling mencintai di antara mereka, sehingga seandainya semua umat islam mau menebarkan salam di kalangan mereka maka akan terasa sangat indah sekali hidup mereka. “Subhaanallah

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairahرضي الله عنه Rasulullah saw bersabda:

……………أولا أدلّكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشواالسلام بينكم. ………

رواه مسلم.

 

Artinya: …………..maukah kalian aku tunjukan sesuatu yang apabila kalian mau mengerjakan maka kalian akan saling mencintai? Yaitu tebarkanlah salam di antara kalian. (HR: Muslim)

 

Ketiga: bisa jadi sebab, pelakunya akan  di masukkan oleh Allah ke dalam sorga.

Sebagaimana yang di sebutkan dalam hadist dari Abi yusuf Abdillah bin salam رضي الله عنهbeliau berkata :saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : “Wahai manusia! Tebarkanlah salam, memberilah makan, sambunglah silaturrahmi, dan shalat malamlah pada saat manusia tidur! Maka kalian akan masuk surga”.(HR.Tirmizdi)

 

Rasulullah saw memerintahkan empat hal yang menyebabkan seseorang akan masuk surga, di antaranya adalah menebarkan salam, maka  ini menunjukkan bahwa menebar salam adalah merupakan amalan ibadah yang sangat mulia dan agung.    Lalu kenapa umat islam saat ini sangat sedikit yang mengamalkannya? Tentu sebabnya karena kebodohan, mereka tidak mengetahui bahwa salam adalah merupakan syiar islam yang mulia, dan di karenakan mereka sudah banyak terpengaruh dengan syiar-syiarnya kafir barat dan lupa dengan syiar islam yang indah dan mulia.

 

Dahulu para sahabat nabi sangat semangat sekali keinginan mereka untuk bisa mengetahui amalan-amalan kebaikan yang bisa memasukkan kedalam surga, dan setelah mereka mengetahui mereka juga semangat untuk mengamalkannya, seperti halnya ketika mereka tahu tentang keutamaan salam maka mereka sangat antusias untuk mengamalkannya.

 

Salah satu contoh adalah sebuah kisah yang di bawakan Imam Malik dalam Muwatho’ dari Thufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasanya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar , kemudian mereka pergi ke pasar bersama-sama.   Tufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama kepasar, setiap melewati tukang rombeng , orang yang menjual dagangannnya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, dia pasti mengucapkan salam kepadanya”.

Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian dia mengajak  saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: Apa yang akan kamu lakukan nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu,tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincan saja. Abdullah menjawab:” Wahai Abu bathn (di panggil demilian karena perutnya besar) kita pergi ke pasar untuk menebarlan salam, kita menebar salam untuk siapa saja yang kita jumpai.”

 (HR.Malik)

 

  SUBHANLLAH   Coba kita simak baik-baik apa yang telah di lakukan shahabat Abdullahh bin Umar, pergi ke pasar bukan untuk berjual beli tapi semata-mata untuk menebarkan salam kepada siapa saja yang dia jumpai, ini menunjukkan betapa semangatnya beliau mengamalkan petunjuk nabi saw yang mulia ini.

 

 

Tata cara memberi salam dan menjawabnya

 

  *     Bagi orang yang memberi salam di sunnahkan mengucapkan:  

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته    dengan lengkap dan menggunakan kata ganti jamak “عليكم” walaupun yang di beri salam hanya seorang diri.(Imam Nawawi dlm Riyadhus sholihin).            Dan boleh hanya dengan  membaca :

 

السلام عليكم ورحمة الله   atau  yang lebih pendek lagi         السلام عليكم

Masing-masing ada keutamaannya, tetapi yang paling utama adalah yang paling lengkap yaitu yang pertama  sebagaimana yang di sebutkan dalam hadist dari ‘Imron bin Hushoin ra beliau mengatakan:  Ada seseorang datang kepada nabi saw kemudian mengucapkan “ASSALAMU ALAIKUM”maka nabi menjawabnya kemudian dia duduk, kemudian nabi bersabda:” sepuluh” sesudah itu datang lagi yang lain dan mengucapkan “ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAH”maka nabi menjawabnya kemudian dia duduk, kemudian nabi bersabda: “dua puluh” sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAARAKAATUH” nabi menjawabnya dan diapun duduk, kemudian nabi bersabda:”Tiga puluh”.(HR.Abu Dawud dan Turmuzdi)

 

 

Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang mengucap salam kapada satu orang, itu menggunakan kata ganti jamak (ASSALAMUALAIKUM) ataukah kata ganti tunggal(ASSALAMUALAIKA).

Sebagian ulama berpendapat  dengan kata ganti jamak( ALAIKUM)  sebagian berpendapat dengan kata ganti tunggal(ALAIKA).  Yang benar adalah yang kedua yaitu menggunakan kata ganti tunggal  (ASSALAMUALAIKA).

Adapun dalam hadist Imran  tentang sahabat yang datang kepada nabi kemudian salam dengan menggunakan kata ganti jamak (ASSALAMUALAIKUM)  itu karena nabi saw tidak sendirian, tetapi beliau bersama sahabat yang lain. Di perkuat oleh hadist MUSIUS SHOLAH(hadist  tentang seorang lelaki yang tidak sempurna  sholatnya sehingga di tegur oleh nabi saw) dalam hadist ini di sebutkan salam (ASSALAMUALAIKA)karena nabi sendirian.(Syaikh Ustaimin dlm Syarah riyadhus sholihin: 3/11)

 

 

 *     Adapun orang yang menjawab salam maka di sunnahkan  menjawabnya dengan jawaban yang  lebih baik , atau minimal menjawab dengan yang sepadan.

Sebagaimana yang di sebutkan dalam keumuman firman Allah عز وجل :

 

    ( وإذا حيّينم بتحيّة فحيّوا باحسن منها او ردّوها إنّ الله كان على كلّ شيء حسيبا)النّسا ء:      86

Artinya: Dan apa bila kamu di hormati dengan suatu(salam)penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan)dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan ssegala sesuatu. (QS:Annisa:86)

 

   Syaikh Nashir Assa’di mengatakan:…………………….Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, bahwa mereka apabila di hormati dengan suatu penghormatan apa saja, hendaknya mereka membalas dengan yang lebih baik atau dengan balasan yang semisal,  dan konteknya melarang dari tidak membalas sama sekali atau membalas tapi dengan balasan yang kurang dari penghormatan yang di berikan.(Tafsir Kalimurrahman hal: 194)

 

Jadi kalau ada yang mengucapkan salam dengan ucapan ASSALAMUALAIKUM maka yang utama di jawab lebih lengkap  WA ALAIKUM SALAM WARAHMATULLAH,  jika mengucapkan salam  ASSALAMUALAIKUM  WARAHMATULLAH maka di jawab  WA ALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKAATUH, atau minimal serupa dengan ucapan salam dari orang yang mengawali salam, seperti  ASSALAMU ALAIKUM di jawab  WA ALAIKUM SALAM,  dan seterusnya.

Tidak boleh membalas dengan balasan yang kurang dari salam yang di berikan, seperti:    ASSALAMU ALAIKUM  di jawab  WA ALAIKUM, atau ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH di jawab  WAALAIKUMSALAM, dan seterusnya.

Dan lebih tidak di perbolehkan lagi, jika ada orang yang salam kemudian sama sekali tidak di jawab.

 

Karena jelas menyelisihi apa yang telah Allah perintahkan dalam ayat di atas, kecuali orang yang salam adalah orang yang jelas-jelas fasik atau ahli maksiat, maka boleh memboikotnya dengan tidak menjawab salamnya tapi dengan sarat bermanfaat, menjadikan dia jera dan taubat dari kefasikan dan maksiatnya, tetapi kalau justru sebaliknya, dia memusuhi orang yang tidak menjawab salamnya dan semakin menjadi-jadi maksiatnya, maka di jawab salamnya(seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya).

 

 

  Menjawab salam yang di sampaikan melalui orang lain

Apabila ada seseorang yang memberi salam melalui orang lain, bagaimanakah menjawabnya?

 

Menjawabnya adalah dengan mengucapkan  ALAIHISSALAM dan lebih utama jika di tambahkan salam untuk yang menyampaikan, dengan ucapan  ALAIKA WA ALAIHIS SALAM atau  ALAIHI WA ALAIKAS SALAM,  karena orang yang menyampaikan salam dia telah berbuat baik mau menyampaikan salam orang lain sehingga kebaikan dia di balas dengan di doakan selamat .sehingga jika ada orang menyampaikan salam seseorang kepada kita, mengatakan “ si fulan telah memberi salam padamu” maka di jawab  ALAIKA WA ALAIHISSALAM(semoga keselamatan tercurah atasmu dan dia).

 

Akan tetapi bila mencukupkan jawaban salam dengan mengucapkan  WAALAIHISSALAM saja maka tidak mengapa, karena nabi saw pernah menyampaikan salamnya malaikat Jibril as kepada A’isyah ra dan A’isyah hanya menjawab WA ALAIHISSALAM  tanpa menambahkan salam untuk Rasulullah saw.(syaikh Ustaimin dalam Syarah Riyadhus sholihin:3/11).

 

Siapakah yang berhak untuk meberi salam terlebih dulu?

 

Pada dasarnya orang yang paling baik adalah orang yang lebih dulu memberi salam, sebagaimana nabi saw senang lebih dulu memberi salam pada shahabatnya dan beliau mengatakan :  نّ أولى الناس بالله من بدأهم بالسّلام ( رواه ابو داود)إ

Artinya: “sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam”.(HR.Abu Dawud)

Hanya saja Rasulullahصلى الله عليه وسلم telah memberikan aturan siapakah semestinya yang lebih dulu memberi salam?

 

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah telah bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, orang yang sedikit, mmemberi salam kepada yang banyak”.(HR,Bukhori dan Muslim)

Dan di riwayat Bukhori di katakan: Yang kecil(muda)kepada yang besar(tua)”.

Jadi sebenarnya yang lebih berhag untuk lebih dulu memberi salam adalah:

Yang berkendaraan untuk yang berjalan kaki.

-Yang berjalan kaki untuk yang duduk.

-Yang sedikit untuk yang lebih banyak.

-Yang muda untuk yang lebih tua

 

Akan tetapi seandainya aturan ini tidak bisa di terapkan karena kebanyakan umat islam tidak mengetahui, maka siapa saja mendahului untuk salam dia  mendapatkan keutamaan dari mendahului salam, karena aturan yang Rasulullah saw sebutkan pada dasarnya bukan menunjukkan wajib sebagaimana di perkuat oleh hadist riwayat Abu Dawud di atas.

 

 

Salam kepada anak-anak kecil dan para wanita

 

Salam kepada anak-anak kecil juga termasuk di syareatkan karena telah banyak di contohkan oleh nabi saw dan para sahabatnya seperti yang terdapat dalam riwayat Bukhori danMuslim bahwa sahabat Anas ra ketika melewati anak-anak kecil maka beliau salam kepada mereka, dan beliau mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa melakukannya.ini jelas sekali menunjukkan bahwa di syareatkannya salam itu bukan hanya untuk orang dewasa saja tetapi juga untuk anak-anak kencil yang selama ini banyak orang tua yang tidak mengetahui atau mengabaikannya.

 

Syaik Muhammad bin Shalih Ustaimin menyebutkan bahwa salam kepada anak-anak kecil itu banyak sekali faedahnya, diantaranya:

 

1-Mengikuti sunnah nabi.

2-Menunjukkan tawadhuk(rendah diri)nya seseorang.

3-Melatih membiasakan anak-anak agar berakhlak mulia, karena anak kecil jika terbiasa melihat orang yang melewatinya itu memberi salam mereka, maka akan di contoh sehingga mereka jadi terbiasa dengan sunnah yang mulia ini.

4-Di sayangi oleh anak-anak, yaitu orang yang biasa salam kepada anak-anak itu akan di senangi dan di sayangi mereka, karena anak kecil itu akan selalu ingat dengan orang yang bersikap baik kepadanya bahkan terkadang mereka tidak bisa melupakan selamanya.

Dan jika semua orang bisa mengamalkannya tentunya mereka akan sangat dekat dengan anak-anak dan memudahkan mereka dalam mentarbiah anak-anak kecil, tetapi sayang kebanyakan orang tidak terbiasa mengamalkannya, bahkan yang lebih di sayangkan lagi adalah para pendidik, sehingga mereka jauh dari anak-anak dan akhirnya kesulitan dalam mentarbiah mereka.

 

 

   Adapun salam kepada kaum wanita adalah:  jika wanita kepada sesama wanita atau laki-laki kepada wanita yang sebagai istrinya atau kepada para wanita yang menjadi mahromnya maka di sunnahkan.

Adapun laki-laki salam kepada wanita yang bukan mahromnya maka  sebaiknya di tinggalkan kecuali benar-benar aman dari fitnah maka boleh, demikian sebaliknya wanita kepada laki-laki yang bukan mahromnya.Allahu A’lam bishowab

 

 

Di susun oleh: Muslam

Maraji’:

1.Syarah riyadhus sholihin karya Syaikh Ustaimin

2.Matan Riyadhus sholihin karya Imam Annawawy.

3.Tafsir Kalimurrahman karya As syaikh Nashir Assa’di

Leave a Comment