Metode Dakwah Islam

Bismillah
Hadits Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata,
لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

💝 Makna Global

Rasulullah shallallahu alaih wasallam mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu menjadi da’i ke negeri Yaman, daerah yang mayoritas penduduknya ahli kitab, sebelum memberangkatkannya, Beliau memberikan pengajaran dan wasiat kepada sahabat Mu’adz yang berkaitan dengan madah (materi) dakwah dan thariqah (metode) nya. Materi dakwah secara eksplisit meliputi: tauhid, sholat, zakat. Sedangkan metode dakwahnya meliputi: mengetahui keadaan objek dakwah, mendahulukan prioritas dakwah, yaitu mendahulukan dakwah tauhid dan memperingatkan kesyirikan, berdakwah dengan tadarruj, dll.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata -yang artinya kurang lebih,” Perkataan Rasulullah ini menduduki sebagai taushiyah untuk membulatkan tekadnya, karena keadaan ahli kitab adalah secara umum memiliki ilmu, maka tidak boleh perhatiannya dalam berbicara kepada mereka seperti berbicara kepada orang-orang bodoh dari penyembah berhala. Dan bukan berarti orang yang datang pada mereka (ahli Yaman) adalah ahli kitab saja, tapi bisa saja di antara mereka yang bukan dari ahli kitab”. (Fathul Bari juz 3 hlm. 358).
Materi dakwah yang paling penting dan utama adalah tauhid, ini adalah asas agama, tidak diterima suatu amalan ibadah kecuali dengannya. Oleh karena itu tauhid ini didahulukan dari pada sholat dan amal ibadah lainnya.
قال ابن دقيق العيد: (وفي الحديث المطالبة بالشهادتين لأن ذلك أصل الدين الذي لا يصح شيء من فروعه إلا به فمن كان منهم غير موحد على التحقيق كالنصارى فالمطالبة متوجهة إليه بكل واحدة من الشهادتين عينا، ومن كان موحدا كاليهود فالمطالبة له بالجمع بين ما أقر به من التوحيد وبين الإقرار بالرسالة وإن كان هؤلاء اليهود الذين كانوا باليمن عندهم ما يقتضي الإشراك ولو باللزوم يكون مطالبتهم بالتوحيد لنفي ما يلزم من عقائدهم، وقد ذكر الفقهاء أن من كان كافرا بشيء مؤمنا بغيره لم يدخل في الإسلام إلا بالإيمان بما كفر به)
Artinya -kurang lebih-
Ibnu Daqiqil ‘id rahimahullah berkata,”Di dalam hadits, hal yang diminta adalah syahadatain karena itu adalah landasan agama, yang tidak sah sesuatupun dari cabang-cabangnya kecuali dengannya. Siapa di antara mereka yang bukan muwahhid secara prakteknya, seperti nashrani, maka arah permintaan dari setiap mereka adalah dua kalimat syahadat, dan barang siapa yang muwahhiddin seperti orang Yahudi, mereka diminta untuk menjamakkan apa yang telah mereka akui dari tauhid dengan pengakuan terhadap risalah nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Meskipun orang-orang yahudi yang berada di Yaman, pada mereka memiliki konskwensi kesyirikan walaupun secara kelaziman, maka mereka diminta memurnikan tauhid dan menghilangkan syirik yang menjadi kelaziman aqidah mereka. Para fuqaha mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang mengkafiri sesuatu dan beriman dengan yang lain, dia tidak masuk ke dalam Islam sampai dia mengimani sesuatu yang telah dia kafiri”. (Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘Umdatul Ahkam juz 1 hlm. 256.

💝 Faedah-faedah Hadits:
1. Seorang da’i sebelum berdakwah harus mengetahui mad’u (audiens), sehingga bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memilih materi dan metode dakwah. Faedah ini diambil dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:” sesengguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab…”. Seorang guru atau murobbi juga harus mengetahui keadaan dan kepribadian siswa-siswanya, sehingga dia bisa memilih metode pembelajaran yabg sesuai di kelas dan seorang guru akan mudah menyelesaikan masalah-masalah pada siswa dengan bimbingan yang benar.
2. Pentingnya mengutus da’i atau muballigh ke pelosok daerah, hal ini bertujuan agar dakwah bisa menyebar ke penjuru daerah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memusatkan dakwah di kota Madinah, namun beliau juga mengutus sebagian sahabat ke daerah di luar Madinah untuk menyebarkan dakwah Islam, salah satunya sahabat Mu’adz radhiyallahu anhu yang diutus ke Yaman.
3. Seorang da’i yang diutus haruslah orang yang memiliki ilmu syar’i dan Paham dengan metode dakwah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak sembarangan dalam mengutus da’i, namu beliau memilih sahabat yang punya kualifikasi dan kompetensi sebagai seoarang da’i. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu adalah sahabat yang memiliki konpetensi da’i, seorang yang berilmu, bahkan di dalam hadits lain menjelaskan bahwa sahabat Muadz ini sudah mampu untuk berijtihad jika menemui masalah yang tidah ada di dalam Al-Quran ataupun Al-Sunnah, sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menepuk dadanya sebagai tanda membenarkan ucapannya. Terlebih lagi jika objek dakwah adalah kalangan orang-orang yang berilmu atau sudah memiliki subhat yang salah, maka harus betul-betul dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
4. Seorang da’i harus mampu memilih  metode yabg tepat dalam berdakwah. Di dalam hadits ini sahabat Mu’adz radhiyaallahu anhu akan berdakwah kepada ahlul kitab, yang punya ilmu dari kitab, hal ini dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  kepada Mu’adz agar beliau bersiap-siap menghadapi mereka dan memilih metode dakwah yang tepat, yaitu dengan berdebat dengan cara yang baik.
5. Seorang da’i hendaknya memprioritaskan dakwah tauhid pertama kali, karena tauhid adalah asasnya agama Islam, tanpa tauhid yang kuat, keislaman seseorang akan lemah dan mudah roboh. Dakwah tauhid inilah yang diperintahkan kepada Mu’adz untuk memulai dakwahnya, sebagaimana tauhid adalah dakwah para Rasul ‘alaihimussalam. Hal ini karena sahabat Mu’adz berdakwah kepada non muslim, jika seorang da’i berdakwah kepada masyarakat muslim, maka boleh bagi dia untuk mengajarkan ilmu agama Islam yang lain, seperti tafsir, fikih, dll, namun hendaknya diprioritaskan dakwah tauhid dan dengan porsi yang lebih banyak, khususnya dakwah di masyarakat yang kurang paham tauhid.
6. Diterimanya khobar ahad (hadits ahad) secara muthlak, baik dalam perkara aqidah, ibadah, akhlak dan lain-lainnya. Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman untuk berdakwah, dan sudah menjadi maklum bahwa sahabat Mu’adz akan menyampaikan dakwah tauhid, ibadah, dll dengan membawakan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits, dan hal itu ditetapkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, jika hadits ahad tidak diterima dalam masalah aqidah maka tidak mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasalam hanya mengutus seorang sahabat saja.
7. Pentingnya berdakwah dengan metode Al-Tadarruj (bertahap), yaitu dimulai dengan sedikit demi sedikit. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan sahabat Mu’adz untuk mendakwahkan Islam secara bertahap, yang dimulai dengan dakwah tauhid, kemudian sholat, zakat, dst. Ini metode yang sangat penting bagi seorang da’i, Apalagi jika masyarakat atau objek dakwah belum paham dan masih jauh dari ajaran Islam, maka da’i harus sabar dan tidak terburu-buru, agar dakwahnya tidak mengagetkan yang akan berdampak tidak baik.
8. Pentingnya mendirikan sholat, karena sholat adalah rukun Islam yang ke dua setelah syahadat.
9. Kewajiban membayar zakat bagi orang-orang kaya yang memiliki harta yang wajib dikeluarkan zakat darinya.
10. Seorang dai bisa sekaligus merangkap tugas sebagai pengambil zakat dari para muzakki.
11. Islam agama damai, bukan agama radikal, aga ma Islam menyebar kepada umat manusia karena sukarela, bukan karena dipaksa. Hal ini terbukti, Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz sebagai da’i, dan tidak mengutus pasukan untuk memerangi mereka. Adapun peperangan yang ada dalam Islam bertujuan untuk membela diri dan mempertahankan eksistensi negara Islam, dan ini sudah merupakan hal yang diketahui, setiap negara pasti memiliki pertahanan diri dan terkadang peperangan menjadi suatu keharusan, jika tidak ada jalan keluar lainnya. Wallahu a’lam

📝 Ust. Agus Santoso, S.Pd.l., Lc., M.P.I

Leave a Comment